Pacul
atau cangkul adalah alat pertanian yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat
Jawa. Namun bagi orang Jawa, pacul bukan hanya sekadar alat untuk mencangkul
tanah. Di balik bentuknya yang sederhana, pacul memiliki makna filosofis yang
dalam. Kata pacul sering dimaknai sebagai “Papat Kang Ora Keno Ucul”, yaitu
empat hal yang tidak boleh lepas dari kehidupan manusia.
Pacul
terdiri dari empat bagian, dan masing-masing memiliki makna:
1.
Doran (gagang pacul)
Doran
dimaknai sebagai “ojo nganti adoh marang Pengeran”. Artinya, ketika bekerja
atau berusaha, manusia harus selalu berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pegangan ini diwujudkan dengan Donga marang Pengeran, selalu berdoa dan
berserah diri kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa.
2.
Bawak (bilah besi pacul)
Bawak
dimaknai sebagai “obahing awak”, yaitu gerak tubuh. Dalam kehidupan, usaha
tidak cukup hanya dengan doa. Harus ada kerja nyata, tindakan, dan tenaga yang
digerakkan untuk mencapai tujuan.
3.
Tandhing / pantek (pasak pengikat)
Tandhing
melambangkan keteguhan hati. Pasak kecil ini menjaga agar pacul tidak terlepas.
Maknanya, manusia harus memiliki semangat pantang menyerah, tetap kuat dalam
keadaan apa pun, serta tangguh menghadapi cobaan hidup.
4.
Langkir / Landhep (bagian bilah yang tajam)
Bagian
ini melambangkan ketajaman pikir. Dalam hidup, manusia harus cerdas, mampu
berpikir jernih, dan mengarahkan kecerdasan tersebut untuk hal-hal yang
bermanfaat. Ketajaman pikiran harus dijaga agar tidak melukai diri atau orang
lain, dan terus diasah dengan ilmu yang baik agar bermanfaat untuk diri sendiri
dan lingkungan sekitar.
Demikianlah
filosofi dalam pacul, alat sederhana namun mengandung ajaran hidup yang
mendalam. Bagi orang Jawa, pacul bukan hanya sarana bekerja, tetapi juga simbol
keseimbangan antara doa, usaha, keteguhan, dan kecerdasan dalam menempuh hidup
